Rabu, 07 Maret 2012

IDEOLOGI TAUHID DENGAN PAHAM-PAHAM BARAT: SEBAGAI “ISME” UNIVERSAL


Akhir-akhir ini, paham yang menjadi ideology dari bangsa-bangsa Barat dan Timur Tengah sedang diuji kelayakannya dalam mengatur aspek-aspek kehidupan. Dimulai dari system ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, hukum dan segala aspek kehidupan dengan menggunakan system dan paham tersebut. Paham-paham Barat yang dimotori oleh kaum kapitalis ini menjadi sosok tubuh besar dalam paham-paham di semua penjuru dunia. Paham sosialis yang diusung oleh Rusia sebagai penganutnya dan Negara komunis lainnya mejadi sosok yang menakutkan. Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin talah diuji kehebatannya pada zaman nabi Muhammad SAW. Tapi seiring berjalannya waktu ideology isalm terhempas lenyap entah kemana dan dilupakan oleh para penganutnya.
            Ideology tauhid sebagi landasan islam adalah ilmu yang membahas tentang keesaan Allah SWT, sifat-sifat yang wajib pada-Nya, sifat-sifat yang wajib-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya dan sifat-sifat yang sama sekali harus ditiadakan daripada-Nya serta tentang rasul-rasul Allah SWT untuk menetapkan kerasulan mereka, hal-hal yang wajib ada pada diri mereka, hal-hal yang bleh dikaitkan (dinisbahkan) kepada mereka dan hal-hal yang terlarang mengaitkannya kepada mereka[1]. Dengan kata lain tauhid mengedepankan aspek ke-Tuhanan untuk dapat meneladani utusan-Nya yaitu Rasulullah SAW. Ideology tauhid yang ditawarkan isalm untuk membebaskan kehidupan dari belenggu jahiliyah dan mengembalikan fitrah manusia yang asli demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
            Paham-paham di luar Tahuhid (kapitalisme dan sosialisme) tidak mengedepankan aspek ketuhanan. Kehidupan dunia seagai tujuan akhir tanpa memikirkan kehidupan akhirat yang lebih kekal dari dunia yang fana ini. Kapitalisme menjadikan aspek modal sebagai instrument pertama dalam tujuan kehidupannya, sedangkan sosislaisme menjadikan kesejahteraan bersama menjadi cita-cita luhurnya tanpa memikirkan aspek kepentingan dan  kebebasan pribadi, bahkan mereka lakukan segala cara dalam menempuh tujuannnya tersebut. Sehingga melahirkan kepemimpinan yang otoriter dalam Negara yang menerapak system sosialis ini (komunis).
            Paham universal yang terdiri dari paham-paham tadi membuat dunia derada dalam keadaan differensiasi yang cukup mencolok. Kapitalisme yang mengusung liberalism mengatur kebebasan pribadi dalam berekspresi. Sosialisme mengedepankan aspek kesejahteraan dengan mengesampingkan kebebasan individu dan bahkn membunuh kebebasan pribadi itu sendiri. Sedangkan islam dengan ideology tauhid mengatur bagaimana manusia dapat menjalankan kehidupan sehari-harinya tanpa adanya intervensi dan paksaan[2], hanya saja adalah sebagai pilihan untuk dapat mewujudkan kebahagiaan saja adalah pilihan untuk dapat mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Ketauhidan pada hakikatnya telah dijelaskan dan Allah dengan jelas menyatakan keesaan-Nya[3].
            Ilmu ketauhidan muncul setelah banyak yang membicarakan soal-soal alam gaib atau metafisika. Ilmu tauhid ini tidak sekaligus muncul pada satu masa, melainkan melalui tahap-tahap perkembangan dari abad kea bad lainnya. Tauhid menjadi ilmu yang memantapkan keyakinan dan kepercayaan agama melalui akal pikiran, di samping kemantapan hati, yang didasarkan pada wahyu.sumber yang menjadi acuan dalam tauhid adalah Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad SAW yang banyak berisi penjelasan tentang wujud Allah SWT, keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya dan persoalan-persoalan ilmu tauhid lainnya[4].
Tauhid: Penentang Paham Kapitalis dan Sosialis
             Paham kapitalis yang digembor-gemborkan oleh dunia Barat dengan paham sosialis sebagai penentangnya ini sangat bertolak belakang. Persamaanya dari kedua paham ini (menurut analisis penulis) adalah kedua paham ini mengesampingkan nilai-nilai kebaikan yang berada dalam agama. Nilai kebaikan yang mutlak adalah datangnya dari Allah SWT. Mereka (kaum kapitalis dan sosialis) memutarbalikan nilai kebaikan yang mutlak tersebut hingga nilai kebaikan dan kebenaran yang terkesan bersifat relative dan sementara. Pemutarbalikan nilai dari kebaikan dan kebenaran inilah yang sesat karena melawan hukum Allah SWT.
            Meskipun agama memperkenalkan mansa[5](penangguhan pelaksanaan) hal mana ditempuh apabila pelaksanaannya dihadang oleh kemaslahatan yang lebih besar. Pengakuan akan adanya keesaan Allah SWT bersifat timbale balik[6], sehingga dengan demikian masing-masing pihak dapat melaksanakan apa yang mereka anggap baik dan benar tanpa memutlakkan pendapatnya.
            Akan tetapi, dalam konteks sejarah sebenarnya paham kapitalis dan sosialis yang menentang konsep tauhid ini, merupakan hasil dari pergulatan bati saja. Pergulatan paham dan mekanisme penyebaran paham-paham dari kedua paham Barat ini dengan mudahnya menggunakan kekerasan yang akhirnya menimbulkan penjajahan terhadap bangsa yang lemah dan terbelakang. Jadi konsep tauhid dalam tatanan masyarakat global masih kurang dikenal hanya sebatas pada persepektif kerohanian semata.
            Berbeda dengan konteks saat ini, seakan-akan tauhid yang dikenalkan islam menjadi ilmu baru dalam tatanan dunia saat ini. Padahal awal ideology yang ditanamkan pada diri manusia adalah ideology tauhid yang menjadi jati dirinya. Nadi Adam dijadikan makhluk pertama menjadi satu-satunya manusia pertama yang bertauhid, meskipun pada akhirnya harus dihukum untuk turun ke bumi karena melawan ketentuan dari Allah SWT. Ini merupakan God designed, alias karena semata kehendak dan “rekayasa” Allah, bukan karena kehendak sejarah atau proses hukum alam.
            Perubahan zaman inilah menjadikan tauhid yang ditawarkan islam harus menjadi lawan dari kedua paham produk Barat tadi (kapitalis dan sosialis). Tauhid yang mengedepankan aspek ketuhanan harus melawan ajaran sekuler yang menganggap bahwa agama tidak penting. Kecenderungan inilah yang menimbulkan bahwa penganut paham kapitalis dan sosialis tidak beragama (atheis).
            Islam yang menganut ketauhidan inilah yang harus dapat merubah paradigma ini. Paradigm bahwa sosialis dan kapitalis adalah system yang baik untuk diterapkan dalam suatu komunitas (Negara)dan yang paling urgen adalah sikap penganggapan yang mengacuhkan agama-lah misi utama. Islam harus mereposisikan dirinya sebagai paham, ideology, pandangan hidup untuk menjadi agama rahmatan lil’alamin demi mewujudkan masyarakat sejahatera sesuai dengan tujuan pokok HMI menciptakan tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT, baldatun thayyibatun War Rabbun Gofur.
Islam Sebagai Pandangan Hidup
            Kehadiran islam yang pada awalnya di tengah-tengah masyarakat Quraisy telah membawa perubahan besar bagi kehidupan bangsa Arab dan umat manusia pada umumnya. Ajaran tauhid sebagai pandangan firah manusia yang sebenarnya telah dikenal oleh bangsa Arab akan tetapi tidak dijadikan sebagai pandangan hidup pada waktu itu. Disebabkan adanya penyelewengan dan hawa nafsu yang mencemari mereka. Maka, kaehadiran islam yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mendapatkan perlawan yang sangat keras.
            Dengan misi utama islam diantaranya adalah membangkitkan gerakan perubahan sosial dan meluruskan pola pikir umat manusia dengan acuan pandangan dunia terhadap tauhid --yaitu menterjemahkan tauhid dalam sikap, perilaku dan pemikiran-- dalam rangka menegakkan keadilan di bawah bimbingan Ilahi di muka bumi. Istilah agama dalm konotasi Barat tidak mencakupi wilayah dan bidangnya. Pengaruh islam inilah maka islam disebut sebagai ad-Din bukan agama.
            Dengan konsep ad-din inilah islam menjadi kode etik dan jalan yang telah dijelaskan oleh Allah SWT dengan konsekuensi siap mengakui kekuasaan Allah sebagi pemegang otoritas mutlak, siap dan pasrah meneriam aturan-aturan hukum dan syariah-Nya dalam hidup dan akhirnya menerima dan mengakui bahwa hanya Allah-lah sebagai stu-satunya Hakim kelak di hari Pengadilan.
            Dalam implementasinya sebagai pandangan hidup manusia yaitu apabila manusia dapat menerapkan kualitas internal dalam dirinya yaitu kejujuran dan keikhlasan. Dengan membahasakan nilai-nilai Islam ke dalam perilaku yang terpuji yang merupakan perpaduan antara iman dan amal, perbuatan sebagai bahasa merendahkan diri dengan cinta dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Sehingga hakikat penciptaan manusia di bumi ini yaitu sebagai khlifah dan abdi Allah tidaklah teringkari, bahkan sebagai acuan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kesimpulan
            Paham-paham Barat yang berkembang saat ini sangatlah berlawanan dengan ideology islam yaitu ketauhidan. Paham Barat yang lebih mengedepankan aspek kebendaan/materialism. Ideology ekstrim yang bernuansakan sosialis menajdi menyeramkan karena penerapannya yang sangat keras. Paham kapitalis dan sosialis inilah yang menajdi kekuatan baru dunia dalam mengalahkan ideology tauhid dalam islam. Kapitalisme yang ditopang dengan liberalismenya dan sosilalis dengan komunismenya melahirkan peradaban sejarah baru dalam perjalanan di dunia ini.
            Islam telah menjadi kekuatan sejak diturunkannya kepada Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Sedangkan paham tauhid sendiri menajdi ideology islam karena tauhid ini diturunkan secara turun temurun dari berbagai nenek moyang yang berpusat pad kaderisasi kenabian. Di mulai dari nabi Adam as sebagai manusia pertama sampai kepada NAbi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, tanpa disadari telah dikalahkan oleh paham-paham baru (kapitalis dan  sosialis).
            Tauhid menjadi acuan dalam keber-islaman ini membuat sebuah peradaban yang menjadi saksi sejarah kehidupan manusia. Nabi Adam, nabi Daud dan nabi-nabi yang lainnya telah meniggalkan peradaban yang sampai masih ada. Percaturan paham tauhid dengan paham-paham Barat yang berkembang inilah menjadi sebuah tantangan umat Islam dalam menerapkan syariat Islam secara kaffah. Paham-paham tersebut telah mengakar dalam kehidupan manusia dewasa ini.
            Islam sebagai ad-Din memberikan solusi yaitu dengan menjadikan Islam untuk pandanagn hidup yang diintegrasikan dengan amal perbuatan yang memadukan dalam kualitas internal diri seseorang yaitu kejujuran dan keikhlasan. Dengan konsep ad-din ini memberikan konsekuensi sosial yang tepat dalam melawan arus paham kapitalitas dan sosialis. 


[1] Eksiklopedia Islam. Hal 90
[2] Al-Qur’an. Q.S Al-Baqarah: 256
[3] Ibid. Q.S An-Nisa: 18
[4] Ensiklopedia islam. Hal 91
[5] Dr. M. Quraish Shihab. Membumikan Al-Qur’an. Hal 221
[6] Al-Qur’an. Q.S Al-Kafiruun: 6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar